Pada saat ia diangkat sebagai pelatih Jerman pada tanggal 12
Juli 2006, revolusi Joachim Loew sudah berlangsung. Pria asal Schoenau,
Jerman, menghabiskan waktu selama dua tahun untuk bekerja sebagai
asisten pelatih Jurgen Klinsmann, menyuntikkan bakat-bakat muda ke dalam
skuat
Die Mannschaft dan melakukan pendekatan taktis untuk menampilkan permainan yang jauh lebih dinamis dan berorientasi serangan.
Dengan Klinsmann sebagai motivator karismatik dan Loew sebagai otak
taktis, nama-nama seperti Lukas Podolski, Bastian Schweinsteiger dan
Philipp Lahm semakin diandalkan, dan menjadi dasar dari perjalanan
sepakbola Jerman berikutnya.

Hilang sudah pemain veteran seperti Dietmar Hamann, Christian Ziege,
Christian Woerns dan Jens Jeremies. Kemudian datang generasi yang lebih
canggih layaknya Per Mertesacker dan Marcell Jansen.
Jerman bermain atraktif, memainkan sepakbola menarik di Piala Dunia
2006 sebelum dikalahkan Italia di semifinal. Dan ketika Klinsmann
memilih untuk tak memperpanjang kontraknya usai turnamen empat tahunan
itu, Loew diberikan tanggung jawab penuh untuk menangani
Die Mannschatf.
Periode 2006-2008 begitu banyak perubahan dalam turnamen sepakbola
level Eropa. Zinedine Zidane tak lagi memperkuat Perancis, Fabio
Cannavaro dan mayoritas skuat Italia yang menjuarai Piala Dunia dua
tahun sebelumnya telah mencapai puncaknya.
Jelang Piala Eropa, Jerman menjadi salah favorit, meskipun dengan
skuat yang tak paten. Bern Schneider cedera dan Schweinteiger tak
bermain di performa terbaiknya, bek kanan Clemens Fritz dipromosikan ke
lini tengah pada awal turnamen.
Jerman bermain di bawah performa sepanjang turnamen, dan Loew
terpaksa membuat perubahan. Kegagalan Jansen untuk tampil mengesankan di
bek kiri memaksanya memindahkan Lahm untuk menutupi posisi Jansen. Arne
Friedrich, yang biasa bermain di bek tengah, di plot di sisi kanan
pertahanan. Di sisi lain, Mario Gomez tampil buruk dan membuat Loew
mengubah formasi dari 4-4-2 ke 4-2-3-1, dengan gelandang Thomas
Hitzlsperger menggantikan posisi Gomez.

Euro 2008 terbukti datang terlalu cepat untuk Jerman untuk menampilkan potensi terbaik mereka, meskipun
Die Mannschaft berhasil melaju ke final, mereka akhirnya takluk di tangan Spanyol.
Loew telah mengubah Jerman sejak tahun 2006. Formasi 4-4-2 diganti
dengan formasi 4-2-3-1, di mana Podolski dipindahkan dari striker ke
sayap kiri. Jerman melakukan serangan balasan, dengan Podolski di sayap
dan bergerak ke tengah untuk mendorong bola ke depan. Jerman tampak
lebih berbahaya di tahun 2008 dibanding 2006.
Transisi pasca-Euro 2008 dengan Piala Dunia 2010 merupakan periode
yang menentukan bagi Loew. Jerman U-21 berhasil memenangi Piala Eropa
2009 dan banyak bintang dari skuat muda itu yang cepat dipromosikan.
Mesut Ozil segera masuk ke dalam tim pertama dan menjadi motor serangan
Jerman, visi yang dimilikinya membawa tim ke level baru.

Kematian
tragis Robert Enke pada November 2009 membawa Loew untuk mencari
penggantinya, dengan nama Rene Adler diplot menjadi nomor satu Jerman
dan juara Euro U-21 Manuel Neuer sebagai pelapisnya. Schweinsteiger yang
semula bermain di sayap kini ditempatkan di posisi tengah, ditambah
munculnya Thomas Mueller dan Jerome Boateng memberikan Loew kesempatan
untuk bereksperimen.
Pada pertandingan persahabatan bulan Maret kontra Argentina, Loew
menempatkan Schweinsteiger besama Ballack di lini tengah untuk pertama
kalinya. Thomas Mueller diberi
caps pertamanya sebagai
starter di
sayap kanan, penggawa Bayern Munchen ini kemudian digantikan oleh Toni
Kroos, yang juga membuat debutnya untuk tim nasional. Jerman kalah 1-0,
tapi potensi-potensi gemilang telah menunggu di depan.
Bencana datang menghampiri Jerman beberapa minggu jelang Piala Dunia.
Adler terpaksa absen karena cedera tulang rusuk, dan lini tengah, yang
dihuni Ballack, Simon Rolfes serta Heiko Westermann juga mengalami
masalah serupa. Hanya memiliki sedikit pilihan, Loew menggantikan Adler
dengan Neuer dan membawa Sami Khedira untuk bermain bersama
Schweinsteiger di Piala Dunia.
Skuat Piala Dunia termuda Jerman dalam 76 tahun harus berjuang dengan
krisis pemain yang menerpa. Namun, mereka mampu bermain cantik dan
mematikan melalui serangan balik. Mereka menghancurkan Inggris untuk
meraih kemenangan 4-1 di babak 16 besar.
Sejalan dengan filosofi modern pelatih asal Jerman seperti Jurgen
Klopp dan Mirko Slomka, Loew menekankan gaya permainan ofensif dan
kinerja defensif kepada seluruh pemain. Formasi 4-2-3-1 berubah menjadi
4-4-1-1.
Penampilan Jerman mulai mengalami perkembangan sejak tahun 2008, saat
mereka bertemu Spanyol. Semifinal bukanlah hasil buruk, tapi mereka
kehilangan Mueller yang harus menjalani masa penangguhan (kemudian
dinobatkan sebagai pencetak gol terbanyak turnamen), dan sundulan Carles
Puyol sudah cukup membawan Tim Matador keluar sebagai pemenang.
Meskipun menelan kekalahan memilukan, Jerman bertekad bangkit.
Harapannya di Euro 2012, mereka akan menjadi dewasa, mapan dan lebih
siap. Loew awalnya sempat ragu apakah ia akan tetap menjadi pelatih
Jerman, namun ia memutuskan untuk tetap bertahan. “Pembangunan baru saja
dimulai,” ucap Loew.
Dan memang, 2010 hanyalah sebuah awal. Setelah Piala Dunia, Loew
makin memberikan kepercayaan kepada pemain muda dibanding sebelumnya dan
berhasil membangun skuat Jerman layaknya sebuah klub. Pelatih memilih
para pemainnya tak didasarkan pada penampilan sementara tetapi pada
penilaian kelas mereka dan potensi jangka panjang. Di bulan November
pada pertandingan persahabatan melawan Swedia, ia memberikan
caps pertama
kepada Lewis Holtby, Andre Schuerrle dan Mario Goetze. Pemain lain
seperti Marko Marin, Kevin Grosskreutz, Marcel Schmelzer, Mats Hummels
dan Andreas Beck juga diberi kesempatan. Dan Jerman tak terlihat buruk
saat mereka ditahan imbang tanpa gol di Gothenburg.

Kinerja Jerman di Piala Dunia memberikan pandangan berbeda kepada
lawan-lawan mereka. Serangan balik tidak menjadi pilihan. Loew terus
menekankan transisi cepat, tapi itu semakin sulit karena lawan Jerman
melihat kurangnya penguasaan bola.
Loew sempat mengungkapkan filosofi permainannya, “Ruang di lapangan
menjadi lebih kecil, waktu untuk bertindak langka karena skill individu
adalah faktor yang paling penting dalam latihan, lebih penting daripada
sebuah formasi.
“Kami perlu membuat yang sederhana menjadi sangat istimewa : lewat
permainan, waktu, menekan dan menjebak, permainan tanpa bola, bagaimana
kami berurusan dengan situasi satu lawan satu, bagaimana kami dengan
cepat menemukan solusi dalam ruang sempit.”
“Jika Anda ingin memenangi gelar di level tertinggi, faktor penting lainnya berperan.”
Jelang Piala Eropa 2012 di Polandia dan Ukraina, di atas kertas
Jerman memiliki skuad terbaik dalam beberapa tahun dan bisa dibilang
yang terbaik di seluruh kompetisi. Sayangnya, Goetze dan Klose hanya
mendapatkan sedikit waktu latihan setelah kembali dari cedera.
Schweinsteiger harus menggunakan penahan rasa sakit setelah mengalami
cedera pergelangan kaki yang sampai hari ini terus membatasi
penampilannya (ia hanya bermain di satu pertandingan untuk negara sejak
pertengahan Oktober 2012).

Juga penting adalah fakta Jerman hampir tidak punya waktu untuk
berlatih bersama sebelum turnamen dimulai. Bayern Munchen harus melakoni
pertandingan persahabatan dengan Belanda pada tanggal 22 Mei, menunda
kedatangan banyak bintang ke dalam skuad Jerman. Real Madrid juga
menahan Mesut Ozil dan Sami Khedira untuk ikut dalam laga persahabatan
di Kuwait .
Energi yang tanpa batas dan kerja sama tim yang luar biasa dari
Jerman pada tahun 2010 hilang dua tahun kemudian. Schweinsteiger dan
Mueller bermain di bawah performa. Reus dianggap tidak siap untuk
menjadi
starter. Kroos lebih sering dibangku cadangan. Meskipun
Gomez mencetak tiga gol di babak penyisihan grup, ia belum juga padu
dengan Ozil. Satu-satunya yang bermain cukup baik saat itu adalah
Khedira dan Mats Hummels.
Jerman ditempatkan di “Grup Maut” dengan Portugal , Belanda dan
Denmark, namun mereka berhasil lolos. Mereka bermain luar biasa saat
mengalahkan Yunani di perempat final. Tapi di semifinal, semuanya
berjalan mengecewakan.

Dihadapkan dengan tugas mematikan pergerakan Andrea Pirlo di tengah,
Loew memilih untuk memainkan Kroos sebagai gelandang dengan formasi
4-3-3 yang membuat Ozil bermain di sayap kanan. Awal pertandingan
berjalan cukup netral, tapi bencana melanda
Die Mannschaft pada
20 menit ketika Hummels tak mampu menahan Antonio Cassano, yang kemudian
memberikan umpan silang kepada Mario Balotelli untuk membuka
keunggulan. Italia menggandakan keunggulan mereka pada menit 36 saat
Balotelli lolos dari jebakan offside.
Azzurri kemudian memenangi laga dengan skor 2-1. Penalti Ozil hanyalah hiburan bagi Jerman.
Loew kemudian mengakui dirinya bertanggung jawab atas kekalahan
Jerman. Meskipun media mengkritiknya karena ketidakmampuan menampilkan
permainan taktis, kesalahan individu dari Hummels dan Lahm juga membuat
perbedaan. Dan ketika skor menjadi 2-0 , Jerman tak punya pilihan selain
bertahan.
Sejak Euro 2012, penampilan Jerman turun dramatis. Kekalahan 3-1
kontra Argentina dalam sebuah pertandingan persahabatan datang enam
minggu setelah takluk dari Italia. Pada bulan Oktober 2012, Jerman
mengalahkan Swedia 4-0 sebelum hanya mampu mendapat hasil imbang di
kualifikasi Piala Dunia.
Die Mannschaft hanya memenangi delapan
dari 14 pertandingan sejak Euro 2012, hasil mengecewakan mengingat rekor
15 kemenangan beruntun yang mereka miliki saat itu.
Menyusul kekalahan Jerman dari Italia Loew menegaskan, “Kami akan
terus bermain dengan cara yang kami seperti tahun-tahun sebelumnya.” Dan
memang , timnya hampir tak terlihat berbeda dalam komposisi dan gaya
bermain di 2012.
Cara ini membuat masalah bagi Loew, yang mendapat kritik karena
menolak untuk memasukkan nama Stefan Kiessling bahkan setelah penggawa
Leverkusen dinobatkan pencetak gol terbanyak di Bundesliga musim lalu.
Dan dengan Klose yang akan berusia 36 sebelum Piala Dunia 2014 dimulai,
pertanyaan tentang siapa yang akan menggantikannya dalam jangka panjang
merupakan masalah serius.

Ketidakmampuan Gomez menyatu dengan Ozil di Euro 2012 membuat striker
Fiorentina menjadi pilihan yang kurang ideal. Meskipun Loew bisa
menurunkan striker ortodoks seperti Max Kruse dan Mario Goetze, itu akan
menjadi perjudian di sebuah turnamen besar. Ini adalah pertanyaan
terbesar di wajah pelatih Jerman saat ia tengah mempersiapkan skuatnya
untuk melangkah ke Brasil.
Di tahun-tahun sebelumnya, Loew mampu menjawab masalah serius dalam
waktu jauh lebih sedikit dan ia terbukti sukses besar. Mungkin ia akan
melakukan hal itu sekali lagi jelang turnamen Juni mendatang. Tapi
tekanan jauh lebih besar saat ini, kritik media dan beban harapan bisa
melelehkan kredibilitas yang ia bangun selama bertahun-tahun. Loew telah
merevolusi sepak bola Jerman dalam beberapa tahun terakhir. Tapi
kemungkinan ia hanya memiliki satu kesempatan terakhir untuk melihat
hasil kerjanya sebagai pelatih salah satu tim sepakbola terbaik dunia.
Brasil adalah kesempatan terakhirnya.